Pilih Akhiri Karier di Persib
DI dalam dunia sepak bola, jika pemain mengakhiri karier profesionalnya di tim yang telah membesarkannya, itu hal yang lumrah. Tengok saja Paolo Maldini, yang menghabiskan 24 tahun karier sepak bolanya bersama AC Milan. Dia memilih gantung sepatu bersama klub asal kota mode tersebut.
Tapi hal itu tidak berlaku bagi seorang Maman Abdurahman. Pria kelahiran Jakarta, 12 Mei 1982, ini berniat untuk mengakhiri karier sepak bolanya bersama persib. Meskipun rencana gantung sepatu masih jauh, ia berharap bisa menutup kiprah sepak bolanya bersama tim Maung Bandung.
Defender setinggi 174 cm ini rupanya sudah telanjur mencintai Persib ketimbang tim-tim yang telah membesarkannya, seperti Persijatim, yang kini bermertamorfosis menjadi Sriwijaya FC, atau PSIS Semarang, yang pernah dibawanya menjadi runner up Liga Indonesia tahun 2006.
“Bagi saya Persib sudah seperti keluarga. Saya senang dengan suasana kekeluargaan antara bobotoh, manajemen, dan pemain sehingga membuat betah bermain bersama Persib,” kata pemain bernomor punggung 5 ini.
Suasana seperti ini memang pernah dirasakannya ketika membela PSIS. Namun di Persib suasana kekeluargaannya lebih hangat. “Seperti ada sesuatu di dalam hati saya untuk tidak pergi dari Persib. Saat berniat untuk pergi saja, seperti ada sesuatu yang hilang. Mungkin perasaan itulah yang membuat saya bertahan di sini,” katanya.
Pemain yang akrab disapa Bang M ini belajar sepak bola di tim amatir PS PAM Jaya Jakarta pada tahun 1996-1998. Karier sepak bola profesionalnya sendiri dirintis bersama Persijatim junior pada 1998 dan setahun kemudian bergabung ke tim senior.
Karena bermain sejak junior di Persijatim, ia sempat menjadi ikon tim asal Jakarta Timur itu. Sayang tim tersebut di jual ke Pemprov Sumatra Selatan dan berubah nama menjadi Sriwijaya Football Club (SFC).
Talenta pemain kesayangan mantan pelatih timnas PSSI, Peter Withe, ini masih tetap diminati pemilik baru Persijatim di bawah bendera SFC. Namun, Maman lebih memilih mencari suasana di klub baru. Ia pun memutuskan bergabung dengan PSIS Semarang sejak musim 2005 dan mengabaikan tawaran Laskar Wong Kito.
Pilihannya bergabung dengan Mahesa Jenar memang tepat. Sebab kariernya terus melambung dan membuat ia menjadi salah satu pemain langganan timnas. Ia bahkan meraih prestasi tertinggi menjadi pemain terbaik Liga Indonesia musim 2006.
Setelah memastikan akan hengkang dari PSIS Semarang karena klub tersebut dilanda krisis finansial, ia menjadi salah satu pemain yang paling diburu. Beberapa klub papan atas di tanah air berebut mendapatkan tanda tangannya. Maklum, ia adalah kapten timnas.
Meski diburu beberapa tim papan atas Liga Indonesia, ia lebih memilih Persib Bandung. Padahal penawaran yang diajukan tim lain tidak sebesar yang disodorkan Maung Bandung. “Saya sudah telanjur mencintai Persib dan bobotoh. Makanya saya ingin terus bermain bersama persib. Mudah-mudahan saya bisa mengakhiri karier sepak bola bersama Persib. Amin,” ujar Maman. (tor)
sumber : tribunjabar.co.id
Leave a Reply