Persoalannya, Keutuhan Tim
Catatan Kegagalan Persib
MENCARI penyebab kegagalan Persib Bandung menjuarai Liga Super Indonesia (LSI) 2008-2009 merupakan hal yang mutlak dilakukan pada saat evaluasi. Jika faktor penyebab itu sudah diketahui, perbaikan bisa langsung dilakukan untuk mempersiapkan tim yang lebih baik pada musim depan. Selain itu, jangan ulangi kesalahan yang menjadi faktor penyebab kegagalan tersebut.***
![]()
SECARA teknis, materi pemain yang dimiliki Persib pada LSI 2008-2009 sudah sesuai dengan target juara yang dibidik. Sederet pemain nasional berlabel “Burung Garuda” seperti Maman Abdurahman, Atep, Airlangga, didatangkan pada awal musim. Mereka melengkapi nama pemain nasional yang sudah dimiliki Persib sebelumnya, macam Nova Arianto, Eka Ramdani, Suwita Pata, Salim Alaydrus, dan Zaenal Arief. Belum lagi nama-nama beken lain seperti Waluyo, Siswanto, Hariono, dan Hari Salisburri, juga turut direkrut.
Dari deretan pemain asing, kecuali Fabio Lopes Alcantara dan Rafael Alves Bastos yang kualitasnya belum teruji, Hilton Moriera, Lorenzo Cabanas, Nyeck Nyobe Georges Clement, dan Christian Gonzales yang masuk pada putaran kedua, adalah legiun asing papan atas di kancah sepak bola nasional.
Mumpuninya materi pemain Persib itu bukan hanya diakui Jaya Hartono, tapi juga sederet pelatih yang beredar di pentas LSI 2008-2009, seperti Jacksen F. Tiago (Persipura), Suharno (Persiwa), Aji Santoso (Persiwa), Rahmad Darmawan (Sriwijaya FC), Muhammad Basri dan Widodo Cahyono Putro (Persela), Danurwindo (Persija), hingga Fandi Ahmad (Pelita Jaya) dan Bambang Nurdiansyah (PSIS).
Lantas, kenapa bisa gagal? “Kalau mereka tidak berada di top position, mungkin itu karena ada persoalan internal,” kata Pelatih PSIS, Bambang Nurdiansyah ketika berbincang dengan “GM” di Semarang, dalam sebuah kesempatan.
Konflik internal
Banur benar. Jaya Hartono pun tidak menutup mata terhadap persoalan serius di tubuh timnya, khususnya menyangkut keutuhan dan kekompakan tim.
Dalam sebuah kesempatan, Jaya sempat mengungkapkan adanya beberapa kubu yang dibangun para pemainnya.
“Lihat pada saat pemanasan menjelang latihan, pasti ada kelompok Jawa Timur, pemain senior, pemain asing, dan pemain muda. Kalau sudah begini, sulit membangun tim yang utuh,” kata Jaya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Suasana ini diperparah adanya sekelompok pemain yang kurang respek terhadap Jaya. Setidaknya, indikasi ini tercium oleh Lorenzo Cabanas. “Jaya itu orang baik. Tapi, ada orang yang tidak suka padanya dan justru senang kalau tim ini kalah, supaya Jaya pergi.,” kata gelandang asal Paraguay itu.
Adanya persoalan internal itu diakui Hilton Moriera dan kapten tim Eka Ramdani. Hanya saja, Eka membantah kalau persoalan internal itu menjadi satu-satunya penyebab kegagalan Persib.
“Masalah itu memang ada dan pasti ada penyebabnya. Tapi, saya malah melihat faktor kelelahan akibat jadwal padat di pengujung kompetisi, justru menjadi faktor utama,” kata Ebol, sapaan akrabnya.
Persoalan program latihan juga sempat dikeluhkan para pemain. Belakangan, faktor kedisiplinan pemain pun sempat dikeluhkan Umuh dan Jaya. Dari penelusurannya, Umuh menemukan sejumlah pemain yang begadang hingga larut malam pada hari menjelang pertandingan.
“Makanya, kalau saya dipercaya lagi, sejak awal akan saya kerasi mereka dengan disiplin tinggi,” kata Umuh.
“Ya, saya memang gagal mengubah karakter dan kebiasaan pemain. Mereka sudah dimanjakan oleh keadaan dan pengurus yang menurut saya terlalu baik pada pemain,” timpal Jaya. (endan suhendra/”GM”)** sumber : galamedia
Leave a Reply