BANDUNG, (PR).-
Walaupun kompetisi telah berjalan hampir seperempat musim, pemain Persib masih belum terbiasa ketika harus main dengan pola 4-4-2 yang diterapkan pelatih Jaya Hartono. Sebagian besar pemain lebih paham dengan pola 3-5-2, yang banyak menjadi pilihan pelatih Liga Indonesia musim lalu.
Diakui kapten tim sekaligus gelandang bertahan Persib, Suwita Pata, pemain umumnya belum terbiasa dengan pola 4-4-2. Bahkan, tidak jarang mengalami kesulitan dan kebingungan dalam menjalankan tugasnya, terutama ketika dalam posisi tertekan atau diserang. Kendati demikian, dia tidak mempermasalahkan pola yang dipilih sang pelatih.
“Kedua pola ini ada untung ruginya. Kalau pola 3-5-2, pemain sudah sangat paham. Di tengah juga lebih solid sehingga tidak mudah dikalahkan lini tengah lawan. Di belakang pun, pertahanan lebih baik karena keberadaan libero,” ujar Suwita ditemui seusai laga kandang melawan Persitara pekan lalu.
Pada dua laga kandang terakhir, saat menjamu Persik, 5 Agustus silam, dan Persitara pada 16 Agutus, Persib menggunakan pola 3-5-2. Hasilnya, dari dua pertandingan itu, lini belakang Persib hanya kebobolan satu gol. Persib mengalahkan Persik 3-1 dan 2-0 Persitara.
Padahal saat berhadapan dengan Persik, pemain Persib dalam kondisi kelelahan pascatur Papua. Mereka pun tidak memiliki banyak waktu untuk beristirahat karena baru tiba di Solo beberapa jam sebelum pertandingan dimulai. Sementara itu, saat menjamu Persitara, “Pangeran Biru” dinilai bermain kurang maksimal.
Pada pertandingan-pertandingan sebelumnya, saat Persib menggunakan pola 4-4-2, lini pertahanan Persib selalu kebobolan, minimal satu gol. Pada pertandingan pertama, saat menjamu Persela walaupun menang dan berhasil mengoleksi hingga lima gol, Persib kebobolan dua gol. Bahkan, gol lawan terjadi dalam jarak waktu yang singkat dengan gol Persib.
Pola 4-4-2 menempatkan empat pemain belakang dalam posisi bertahan. Belum pahamnya tugas kedua pemain sayap dan gelandang bertahan, ketika saat bertahan membuat pemain lawan dari tengah atau sayap mudah menembus pertahanan Persib.
Misalnya, pemain sayap. Ketika membantu penyerangan saat mendapat tekanan dari lawan, terlambat kembali ke posisi dan lengah dalam menjaga lawan. Begitu juga pemain di gelandang bertahan, terkadang lupa membantu pertahanan menempati posisi sebagai stopper.
Masalah ini tidak ditampik pelatih Jaya Hartono. Berkali-kali dia sempat mengakui bahwa pemainnya terlalu asyik menyerang dan lupa kembali ke posisi masing-masing. Kondisi itulah yang mengakibatkan jumlah kebobolan Persib banyak. Hingga pertandingan keenam, Persib sudah kebobolan hingga 10 gol.
“Lini belakang Persib memang masih menyimpan sejumlah kelemahan. Soal apa saja itu, tidak perlu diperinci. Namun, yang pasti ini menjadi fokus perhatian tim pelatih untuk beberapa waktu ke depan. Kalau soal pola 4-4-2, semua pemain masih memerlukan adaptasi,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Kini, Persib memiliki waktu rehat kompetisi yang cukup panjang, mencapai satu bulan. Dikatakan Jaya, walaupun kemungkinan besar akan berjalan kurang optimal karena memasuki Ramadan, sisa waktu menjelang partai tandang ke Pulau Sumatra akan dimanfaatkan untuk memperbaiki kekurangan di semua lini, khususnya lini belakang. (A-150) ***