Ayah Adjat Sudrajat Meninggal Dunia

BANDUNG, (PR).-
Berita duka datang dari bintang Persib tahun 1980-an, Adjat Sudrajat. Andi Sukandi, ayah Adjat, mengembuskan napas terakhir pada usia 87 tahun di kediamannya di Gg. Sukagalih II RT 06 RW 08 Kel. Cipedes, Kec. Sukajadi Bandung, Rabu (20/8) siang. Almarhum meninggal karena faktor usia dan penyakit pada alat pencernaan.

“Sudah lama Bapak mengidap gangguan pada lambung, namun tidak pernah mengeluh,” kata Adjat saat dihubungi, Rabu (20/8).

Menurut dia, tidak ada tanda-tanda ayahnya akan tutup usia. “Pagi hari sebelum saya bekerja, kami masih sempat ngobrol dan beliau tidak mengeluh sakit,” ujarnya.

Ajat mengatakan, menurut keterangan adik perempuannya Triyatni (40), almarhum diketahui sudah meninggal saat hendak dibangunkan dari tidur siang. “Sekitar pukul 13.00, bapak tidur siang. Namun, ketika dibangunkan oleh adik saya kira-kira pukul 15.30, beliau sudah tidak bernapas. Saya sendiri ketika ditelefon masih di kantor,” ujar Adjat.

Jenazah disemayamkan di rumah duka di Sukajadi. Kerabat dan rekan sesama mantan pemain Persib berdatangan melayat, di antaranya Yusuf Bachtiar, Suryamin, Dede Iskandar, dan Kosasih.

Jenazah akan diberangkatkan dari rumah duka pagi ini untuk dimakamkan di TPU Cibarunai Sarijadi, pada pukul 8.00 WIB. “Almarhum akan dimakamkan di sebelah makam Ibu yang meninggal lima tahun lalu,” tutur Ajat. (CA-168)***

Pemain Lebih Paham Pola 3-5-2

BANDUNG, (PR).-
Walaupun kompetisi telah berjalan hampir seperempat musim, pemain Persib masih belum terbiasa ketika harus main dengan pola 4-4-2 yang diterapkan pelatih Jaya Hartono. Sebagian besar pemain lebih paham dengan pola 3-5-2, yang banyak menjadi pilihan pelatih Liga Indonesia musim lalu.

Diakui kapten tim sekaligus gelandang bertahan Persib, Suwita Pata, pemain umumnya belum terbiasa dengan pola 4-4-2. Bahkan, tidak jarang mengalami kesulitan dan kebingungan dalam menjalankan tugasnya, terutama ketika dalam posisi tertekan atau diserang. Kendati demikian, dia tidak mempermasalahkan pola yang dipilih sang pelatih.

“Kedua pola ini ada untung ruginya. Kalau pola 3-5-2, pemain sudah sangat paham. Di tengah juga lebih solid sehingga tidak mudah dikalahkan lini tengah lawan. Di belakang pun, pertahanan lebih baik karena keberadaan libero,” ujar Suwita ditemui seusai laga kandang melawan Persitara pekan lalu.

Pada dua laga kandang terakhir, saat menjamu Persik, 5 Agustus silam, dan Persitara pada 16 Agutus, Persib menggunakan pola 3-5-2. Hasilnya, dari dua pertandingan itu, lini belakang Persib hanya kebobolan satu gol. Persib mengalahkan Persik 3-1 dan 2-0 Persitara.

Padahal saat berhadapan dengan Persik, pemain Persib dalam kondisi kelelahan pascatur Papua. Mereka pun tidak memiliki banyak waktu untuk beristirahat karena baru tiba di Solo beberapa jam sebelum pertandingan dimulai. Sementara itu, saat menjamu Persitara, “Pangeran Biru” dinilai bermain kurang maksimal.

Pada pertandingan-pertandingan sebelumnya, saat Persib menggunakan pola 4-4-2, lini pertahanan Persib selalu kebobolan, minimal satu gol. Pada pertandingan pertama, saat menjamu Persela walaupun menang dan berhasil mengoleksi hingga lima gol, Persib kebobolan dua gol. Bahkan, gol lawan terjadi dalam jarak waktu yang singkat dengan gol Persib.

Pola 4-4-2 menempatkan empat pemain belakang dalam posisi bertahan. Belum pahamnya tugas kedua pemain sayap dan gelandang bertahan, ketika saat bertahan membuat pemain lawan dari tengah atau sayap mudah menembus pertahanan Persib.

Misalnya, pemain sayap. Ketika membantu penyerangan saat mendapat tekanan dari lawan, terlambat kembali ke posisi dan lengah dalam menjaga lawan. Begitu juga pemain di gelandang bertahan, terkadang lupa membantu pertahanan menempati posisi sebagai stopper.

Masalah ini tidak ditampik pelatih Jaya Hartono. Berkali-kali dia sempat mengakui bahwa pemainnya terlalu asyik menyerang dan lupa kembali ke posisi masing-masing. Kondisi itulah yang mengakibatkan jumlah kebobolan Persib banyak. Hingga pertandingan keenam, Persib sudah kebobolan hingga 10 gol.

“Lini belakang Persib memang masih menyimpan sejumlah kelemahan. Soal apa saja itu, tidak perlu diperinci. Namun, yang pasti ini menjadi fokus perhatian tim pelatih untuk beberapa waktu ke depan. Kalau soal pola 4-4-2, semua pemain masih memerlukan adaptasi,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Kini, Persib memiliki waktu rehat kompetisi yang cukup panjang, mencapai satu bulan. Dikatakan Jaya, walaupun kemungkinan besar akan berjalan kurang optimal karena memasuki Ramadan, sisa waktu menjelang partai tandang ke Pulau Sumatra akan dimanfaatkan untuk memperbaiki kekurangan di semua lini, khususnya lini belakang. (A-150) ***

Izin Persib Masih tanpa Penonton

Joko Driyono, “Keputusan dari Mabes Polri Ini tidak Permanen”

JAKARTA, (PR).-
Mabes Polri masih belum memberikan izin pertandingan kandang Persib di Bandung untuk bisa disaksikan penonton. Nasib serupa dialami Persija, saat menjadi tuan rumah di Jakarta.

Hal tersebut terungkap dalam pertemuan para manajer klub peserta Liga Super Indonesia (LSI) 2008 dengan Badan Liga Indonesia (BLI) dan Mabes Polri sebagai pihak keamanan. Kegiatan itu berlangsung di Hotel Sultan Jakarta, Selasa (19/8). Pada pertemuan tersebut, dari 18 klub peserta LSI, hanya PSIS yang absen. Dari kubu Persib hadir sekretaris tim, Yudiana, dan asisten pelatih, Robby Darwis.

Menurut Direktur Kompetisi BLI, Joko Driyono, keputusan dari Mabes Polri tersebut tidak permanen. “Artinya bisa saja nanti Mabes memberikan izin pertandingan di Bandung dan Jakarta ini untuk bisa disaksikan penonton. Tapi sampai kapan, itu belum bisa diputuskan karena Mabes belum memberikan jawaban yang konkret. Saat ini Mabes melalui Polda di masing-masing daerahnya hanya memberikan izin pertandingan tanpa penonton,” ujar Joko.

Ditambahkan Joko, pihak kepolisian dalam memberikan izin pertandingan tidak secara sekaligus, tetapi dilakukan per pertandingan. “Hal ini menurut Mabes berdasarkan pertimbangan situasional di daerah masing-masing,” ucapnya.

Melihat perkembangan situasi seperti itu, laga kandang Persib berikutnya melawan PSIS dan Pelita Jaya Jabar pada 23 dan 27 September kembali terancam tanpa penonton. Kedua partai tersebut akan dimainkan malam hari karena pelaksanaannya ialah pada bulan Ramadan.

Penyesuaian jadwal

Pada pertemuan tersebut juga dibahas mengenai penyesuaian jadwal kompetisi LSI berkenaan dengan batalnya tim nasional mengikuti Turnamen Merdeka Games di Malaysia. Semula, pada Oktober kompetisi libur selama dua minggu, karena timnas akan main di Merdeka Games.

“Tapi kali ini selama Oktober kompetisi tidak akan ada libur. Jadi jadwal harus disesuaikan lagi. Rencananya BLI tanggal 26 Agustus nanti sudah bisa menerbitkan jadwal baru,” ujar Joko.

Selain itu, Oktober nanti BLI akan mulai menggelar Piala Indonesia yang diikuti tim peserta dari LSI, divisi utama dan delapan tim dari tim Divisi Satu. “Tapi untuk Oktober nanti, hanya tim-tim dari Divisi Utama dan delapan tim divisi saja yang bertanding, sedangkan tim dari LSI baru akan bertanding November,” ucapnya.

Saat ini kompetisi LSI libur karena sebagian pemain membela timnas senior dan timnas U-21, untuk mengikuti Piala Kemerdekaan yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno Senayan Jakarta. Kompetisi dilanjutkan pada awal bulan puasa. Rencananya kompetisi akan kembali bergulir seminggu setelah puasa.

Sementara itu, tiga tim yang selama ini selalu berpindah-pindah tempat saat menjadi tuan rumah, yaitu Persita, Persitara, dan PSMS, kini bakal menetap. Persitara akan menggunakan Stadion Lebak Bulus, sedangkan Persita dan PSMS akan kembali main di Stadion Benteng Tangerang dan Stadion Teladan Medan. “Tapi mereka baru bisa main di kandangnya sendiri di putaran kedua, setelah lampu stadion selesai,” kata Joko. (A-105)***

Bonus Bukan Faktor Penentu Kemenangan

BANDUNG, TRIBUN - Dua kali kemenangan beruntun yang diperoleh Persib Bandung atas Persik dan Persitara, terjadi karena pemain memiliki motivasi tinggi untuk menang. Kemenangan itu diraih bukan karena pemain diiming-iming bonus.
“Saya kira bonus bukan faktor penentu kemenangan. Dua kali kemenangan beruntun yang didapat Persib lebih karena motivasi bertanding para pemainnya yang tinggi,” ujar Psikolog Tim Persib Drs Hedi Wahyudi MPsi, Selasa (19/8).

Menurut Hedi, meski diming-imingi bonus besar ketika hendak bertanding melawan Persija, namun kenyataannya Persib tetap kalah. “Waktu lawan Persija, pemain dimingi-imingi bonus besar. Motivasi pemain juga sangat tinggi tapi kenyataannya kita tetap kalah. Saya kira kita harus mengakui saat itu Persija memang bermain bagus,” kata Hedi.

Meski begitu kata Hedi, bonus bukannya tidak penting. Sebab kerja keras pemain pun perlu dihargai dan bonus bisa digunakan sebagai alat perekat antara pengurus dengan pemain. “Saya kira tradisi memberikan bonus itu bagus. Setidaknya pemain memiliki motivasi lebih untuk meraih kemenangan,” ujarnya.

Hanya saja kata Hedi, semua pihak perlu berhati-hati karena bonus hanyalah memoles semangat pemain dari luar saja. Yang paling penting adalah munculnya kesadaran internal dari para pemain untuk memenangkan pertandingan. “Namun saya percaya pemain Persib memiliki profesionalisme, jadi mereka sudah menyadari apa yang harus dilakukannya untuk kepentingan klub,” tutur Hedi.

Kenyataannya setiap kali Persib berhasil memenangkan pertandingan, selalu kebanjiran bonus. Terakhir, usai mengalahkan Persitara, Ketua Umum Persib H Dada Rosada dan Wakil Manajer H Umuh Muhtar, ikut memberikan bonus.
“Soal bonus sudah ada peraturannya. Misalnya bonus saat menang pada pertandingan tandang dan menang pada pertandingan kandang, sudah ditentukan. Jadi soal bonus sebenarnya sudah diketahui secara terbuka,” papar Umuh seusai Persib merontokkan Persitara di Stadion Siliwangi, Sabtu (16/8).

Bastos Dan Fabio Lopes Jadi Idola

BISA jadi masyarakat Kampung Ciluluk Kecamatan Tanjungsari, Sumedang, sudah tidak asing dengan semua pemain Persib. Hebatnya masyarakat Ciluluk tidak perlu datang ke Stadion Siliwangi atau ke mes tim Maung Bandung di Stadion Persib, untuk berburu tanda tangan atau berfoto bersama Suwita Patha dkk.

Yang dibutuhkan warga Ciluluk mungkin hanya kesabaran untuk bersua dengan pemain Persib pujaaan mereka. Kenyataannya pemain, pelatih, ofisial, dan pengurus Persib kerap hadir sendiri di kampung mereka.
Adalah Wakil Manajer Persib H Umuh Muhtar yang berperan besar mendekatkan pasukan Maung Bandung kepada warga Ciluluk. Seperti Senin siang kemarin, Umuh sengaja menghadirkan pemain, pelatih, ofisial, dan pengurus Persib ke tempat niis-nya di Ciluluk. Di tempat ini Umuh menggelar acara untuk merayakan kemenangan Persib di dua pertandingan terakhir Liga Super.
Bedanya pada acara kemarin terasa istimewa karena dihadiri langsung Ketua Umum Persib H Dada Rosada. “Acara ini juga digelar khusus untuk Kang Dada, Ketua Umum Persib yang terpilih kembali jadi walikota,” tutur Umuh yang disambut tepuk tangan tamu undangan, termasuk pemain Persib.
Selain tuan rumah dan Kang Dada yang memberikan kata sambutan, ada juga aksi tiga penyanyi di akhir acara. Namun nampaknya tiga penyanyi yang jelita dan seksi itu harus mengakui daya tariknya kalah oleh pemain Persib, terutama dua pemain asing anyar Persib Rafael Alves Bastos dan Fabio Lopes.
Walaupun tidak didaulat naik panggung, Bastos dan Lopes tetap menjadi target buruan para tamu. Bastos dan Lopes yang kemarin hadir didampingi istrinya, tetap diburu oleh mereka yang ingin foto bersama dan sekedar mendapatkan tanda tangan. Bastos dan Lopes pun dibuat sibuk.
Memang bukan hanya Bastos dan Lopes yang diburu, pemain lain pun tetap dikejar penggemar. Namun kemarin, sepertinya giliran Bastos dan Lopes yang jadi idola baru masyarakat Ciluluk. “Sangat menyenangkan,” komentar Lopes sambil ternyum. (daf)