WALAUPUN sempat memukau bobotoh Bandung di awal kemunculannya, nama Rafael Alves Bastos sebagai striker Persib sempat dipertanyakan. Ketajaman sundulan yang menjadi alasan pelatih Jaya Hartono merekrutnya pun tak pernah tampak pada sejumlah penampilan perdananya bersama Persib.
Minggu, 20 Juli, keberadaan Bastos di kubu “Pangeran Biru” pun mulai menuai cemooh. Sejumlah orang yang mengaku tidak suka dengan permainannya mulai menyejajarkan nama Bastos dengan gelandang serang Liontin Chitescu yang disebut-sebut sebagai pemain tampan tak bertenaga.
Teriakan bobotoh untuk menukar posisi Bastos dengan striker lain pun menggema. Gol perdana pemain berumur 26 tahun bagi Persib pada Liga Super Indonesia (LSI) 2008 yang tercipta dari titik penalti pada pertandingan itu pun belum mampu menutup mulut sejumlah bobotoh.
Kini, Bastos terbit laksana seorang bintang. Di keraguan sejumlah pihak akan keberhasilan Persib untuk mengakhiri tiga kali kekalahan beruntunnya, ia tampil laksana oase di padang pasir. Tak tanggung-tanggung, dua gol ia sumbangkan bagi Persib dengan jeda waktu yang sangat singkat, satu menit setengah.
Gol kedua Bastos yang menjadi gol pembuka kemenangan Persib pada laga kandang yang terpaksa digelar di Stadion Manahan Solo itu awalnya belum mampu mendongkrak namanya. Cap sebagai striker spesialis penalti masih dilontarkan sejumlah wartawan yang meliput pertandingan Persib-Persik yang berakhir 3-1 itu.
Namun, satu menit kemudian, cap itu pun mulai luntur. Bahkan, harapan agar Bastos mencetak sejarah dengan membuat hattrick pun mulai terbersit. Bastos pun mulai diperhitungkan sebagai salah seorang striker andalan Persib.
“Saya tidak merasa lelah setelah dari Wamena. Itu karena saya punya keinginan kuat untuk bekerja keras agar bisa dipercaya oleh pelatih. Saya juga ingin membuktikan bahwa Persib bisa menang, walaupun tanpa kehadiran bobotoh dan harus main di kandang tim lain,” ujar Bastos, seperti diterjemahkan Hilton Moreira.
Hingga saat ini Bastos belum fasih berbahasa Inggris maupun Indonesia. Sehingga, untuk berkomunikasi dengan striker bertubuh jangkung itu diperlukan penerjemah yang biasanya dilakukan Hilton dengan sukarela.
Melalui kemenangan tersebut, lanjut Bastos, juga bisa menjadi sebuah pembuktian bahwa dengan motivasi dan semangat, walaupun fisik dalam kondisi terpuruk, kemenangan bukanlah hal sulit. Namun, hal itu harus didukung dengan kerja keras.
“Lelah bukan main, setelah perjalanan Wamena-Bandung. Itu tentu dirasakan semua pemain. Bukan hal mudah untuk main di sini pun. Kami pergi mendadak. Tidak uji coba lapangan. Tapi dengan motivasi, kami bisa menang dan saya bisa mencetak gol,” katanya.
Dua gol koleksinya itu, menurut Bastos, ia persembahkan bagi anaknya, Pedro Alves Bastos, yang baru berumur satu tahun dan sang istri, Karou. Saat ini, keduanya itu sudah berada di Bandung. “Mereka sudah empat hari di sini. Gol ini untuk mereka,” ujar Bastos dengan mata berbinar-binar.
Gol pembuktian, rupanya itulah makna kedua gol tersebut bagi Bastos. Namun, dua gol itu saja tentu belum cukup untuk melepas dahaga bobotoh. (Ai Rika Rachmawati/ “PR”)***
persib sampai mati the jck anjing sampah ibu kota