“Bobotoh” Jangan “Bunuh” Persib

Oleh REVA DEDDY UTAMA

DALAM sejarah sepak bola kita, Persib Maung Bandung merupakan pilar penting. Tanpa Persib, kompetisi umpama sayur tanpa garam, hambar dan tak enak lah. Fenomena itu sangat terasa di Liga Super Indonesia (LSI) yang kini berlangsung. Persib merupakan salah satu tim yang dinanti-nanti penampilannya, bukan cuma oleh bobotoh (pendukung setia Persib), tetapi juga penggemar sepak bola umumnya.

Kecintaan warga Bandung pada Persib terbukti dari penonton yang datang ke Stadion Siliwangi. Dipastikan stadion padat-luber, meski Persib bertanding lawan tim kurang terkenal. Jika lawan tim papan atas, misal Persija Jakarta, PSIS Semarang, atau Sriwijaya FC Palembang, praktis stadion tak bisa menampung animo penonton. Padahal, tiket tanda masuknya paling mahal dibandingkan dengan stadion lain.

Saya termasuk orang yang langsung melihat dari dekat soal animo penonton ini, sejak liga digelar mulai tahun 1995. Tercatat, Persib adalah tim paling sukses menarik penonton ke stadion. Bukan saja jumlahnya, juga karakter penontonnya, dari anak-anak hingga orang dewasa, hebatnya dari semua lapisan. Persib pulalah yang mampu menyedot paling banyak para neng geulis datang ke stadion.

Soal kesenangan menonton Persib, juga terbukti dari riset televisi. Tatkala melawan Persija pekan lalu, misalnya, 70% penonton televisi di Bandung menonton pertandingan yang menarik itu. Jumlah itu rekor, tak pernah terjadi sebelumnya. Rupanya, bagi warga Bandung, pesona Persib jauh mengalahkan daya pikat sinetron atau program musik variety show yang melibatkan grup band terkenal.

Barangkali karena “kegilaan” itu, bobotoh Persib kurang mengontrol emosi dan terkadang suka kelewat batas memberi dukungan. Mereka, sepertinya ingin Persib main bagus dan menang terus. Harapan itu lumrah. Dimana-mana, setiap fans ingin tim kesayangannya melumat lawan. Kemenangan menjadi tujuan utama, hasil imbang tidak boleh terjadi, dan kekalahan hasil paling dibenci.

Tetapi apa mau dikata, dalam sepak bola tidak selalu bisa menang. Yang penting, hasil tersebut sudah merupakan usaha maksimal. Kalau tim kesayangan kita sudah tampil habis-habisan tapi kalah, dukungan harus tetap diberikan. Kekalahan dalam sebuah kompetisi yang panjang seperti di LSI ini bukan berarti kiamat.

Lihatlah kompetisi Inggris musim lalu. Klub elite Manchester United, yang bertaburan bintang, dipecundangi oleh Manchester City di awal kompetisi. Pendukung setia “Setan Merah” kecewa berat. Akan tetapi, saat media memaki-maki kekalahan itu mereka justru membela habis-habisan klub kesayangannya. Pelatih Alex Ferguson berkata, “Biarlah media membenci kami, yang penting para pendukung tetap setia dan mencintai kami.” Kita sama-sama tahu, akhirnya Manchester United merebut gelar juara.

Pendukung, memang pilar penting bagi pencarian prestasi. Kesetiaan, kecintaan, dan kepercayaan suporter adalah kekuatan kedua belas. Dengan suporter yang terus memberikan semangat sepanjang pertandingan, tim bisa tampil hebat melebihi kekuatan aslinya, sementara tim lawan bisa kehilangan nyali. Tetapi sebaliknya, bila suporter menjadi musuh dalam selimut, celaka untuk kesebelasan itu.

Inilah yang dicemaskan dari bobotoh Persib, yang terlalu cepat emosional terhadap Maung Bandung. Kekalahan melawan Persija, pekan lalu, baru terjadi di partai kedua dari 34 partai laga. Sekadar mengingatkan, janganlah kekalahan itu menjadi patokan, kemudian membenci Persib.

Jangan terulang lagi kejadian di musim lalu. Persib justru gemetar bermain di depan pendukung sendiri. Akibatnya, setiap tampil di Stadion Siliwangi Persib jutru menuai kekalahan. Ironisnya, bila tampil di kandang lawan, pemain Persib justru tenang tapi menakutkan dan meraih kemenangan.

Begitulah, bobotoh jangan membunuh diri sendiri (baca: Persib). Dukung dan cintailah Persib, dalam keadaan senang maupun susah. Ini juga berlaku untuk para pengurus agar tak cepat panik menerima kekalahan. Pernyataan Anda ke media harus dikontrol, jangan sampai “membunuh” mental pemain maupun pelatih. Justru pada saat seperti itu mereka harus dirangkul. Sekali lagi, perjalanan masih panjang, Kang!

Bagi saya tim Persib sekarang menakutkan, lebih tangguh dari tim Persib sebelumnya. Mereka punya materi pemain berkualitas di semua lini. Di belakang ada duet palang pintu, Nyeck Nyobe dan Nova Arianto, yang tak hanya tangguh bertahan, juga punya insting bagus dalam mencetak gol. Maklum saja “Si Suster Ngesot” Nova, sebelumnya adalah seorang striker.

Di lini tengah, yang merupakan dapur permainan, ada duet Eka Ramdhani dan Lorenzo Cabanas, yang memiliki ball-skill di atas rata-rata. Keduanya lihai membangun serangan melalui umpan terukur. Dan keduanya juga ahli dalam menendang bola-bola mati untuk dijadikan gol. Dibantu gelandang worker, Suwita Pata atau Haryono, yang berperan membantu pertahanan, tak ayal lini tengah Persib oke punya.

Di lini depan, Persib punya trisula maut, Zainal Arif-Hilton-Rafael Bastos. Ketiganya striker petarung, bukan penyerang oportunis yang cuma bisa memanfaatkan kesalahan lawan. Mereka sudah membuktikan kehebatannya sebagai bomber di dua pertandingan awal. Dan jangan lupa, Persib punya Jaya Hartono, pelatih jago strategi, bertangan dingin, dan punya lisensi sebagai pelatih juara.

Penulis, pengamat sepak bola, tinggal di Jakarta. (sumber : Pikiran-rakyat)

Persib Tidak Pantas Kalah

JAYAPURA, TRIBUN-Kapten Persib Suwita Patha menyatakan, Persib sudah bermain maksimal walaupun akhirnya harus kalah 0-1 dari Persipura. Pada pertandingan yang digelar di Stadion Mandala Jayapura, Minggu (27/7), kata Wita semua pemain Persib sudah mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

“Persib berhasil membuat pemain-pemain Persipura frustasi. Hingga tiga puluh menit babak kedua, kami masih mampu mengimbangi permainan Persipura,” tutur Suwita.
Namun Suwita pengakui gol tunggal Persipura yang dicetak Ian Kabes, membuat Persib kehilangan permainan terbaiknya. Gol Kabes yang memberikan kemenangan pada tim tuan rumah tersebut, diakui Wita, telah merusak konsentrasi dan permainan dia dan rekan-rekannya.
“Seharusnya gol tersebut tidak terjadi bila wasit menghentikan pertandingan karena sebelumnya Nyeck (Nyobe) dijatuhkan lawan. Gol terjadi ketika konsentrasi kita terpusat kepada Nyeck. Bila wasit memperhatikan pelanggaran tersebut, Persib tidak pantas kalah,” ujat Suwita.
Kapten Persipura Eduard Ivak Dalam juga mengakui bawah Persib main bagus. Eduard secara khusus memuji permainan defender-defender Persib. “Permainan Persib membuat kami sulit mengembangkan permainan. Persib main apik. Lini pertahanan mereka sulit ditembus,” puji kapten Persipura ini.
Eduarad mengaku sempat frustasi karena serangan dia dan rekan-rekannya selalu rontok oleh defender-defender Persib. “Kami akhirnya lebih memainkan bola-bola pendek. Kami bersyukur, akhirnya kami bisa mencetak gol dengan permainan seperti itu,” tutur Eduard.
Kemenangan atas Persib, seperti dikatakan Eduard, pantas disambut gembira Persipura. “Karena dengan mengalahkan Persib di Stadion Mandala, membuat kami bisa mencatat kemenangan kandang pertama di Liga Super,” ujar salah satu pemain senior di tim Persipura ini.
Pujian juga dilontarkan Raja Isa. Pelatih Persipura ini mengaku sangat beryukur pemain-pemainnya bisa memenangkan pertandingan. “Karena Persib sebenarnya sulit ditaklukkan,” ucap Raja Isa yang menolak berkomentar soal kepemimpinan wasit.(gan/daf)

Persib Kembali “Disakiti” Wasit

JAYAPURA, (PR).-
Kubu Persib kecewa dengan kepemimpinan wasit Djumadi Efendi (Surabaya) yang memimpin laga “Pangeran Biru” melawan Persipura, di Stadion Gelora Mandala Jayapura, Minggu (27/7). Namun, mereka tidak bersedia berkomentar panjang karena takut dinilai salah jika mengkritik kinerja wasit.

Wakil Manajer Persib H. Umuh Muchtar mengatakan, ofisial dan pemain sebuah tim dilarang melakukan protes kepada wasit. Namun, kenyataannya pertandingan tanpa disiarkan langsung ternyata sangat menguntungkan tuan rumah. “Kami dilarang bicara soal wasit. Tapi, kenyataan di lapangan kinerjanya seperti itu. PSSI ini harus segera turun tangan memantau langsung kinerja wasit di semua pertandingan,” ujar Umuh kepada wartawan Pikiran Rakyat, Irfan Suryadireja, seusai pertandingan kemarin.

Menurut dia, pertandingan tanpa siaran langsung ini membuat wasit lebih berani bertindak untuk memihak tuan rumah, karena luput dari perhatian masyarakat luas ataupun pengurus BLI dan PSSI. Untuk itu, dia berharap PSSI segera membenahi soal wasit ini. “Ini demi kemajuan sepak bola Indonesia,” ujarnya.

Umuh mengatakan, sudah dua kali Persib “disakiti” oleh wasit. Pertama saat melawan Persija di Stadion Siliwangi dan kedua di Persipura. “Suporter Persipura sendiri berteriak wasit memihak tuan rumah. Saya sendiri tidak bisa berkomentar banyak. Biar penonton yang menilai sendiri,” ujarnya.

Kubu Persib makin tidak tenang ketika Persipura belum bisa mencetak gol hingga 20 menit terakhir, tiba-tiba seorang panpel yang dekat bench Persib berkomentar, “Nanti juga bakal ada penalti kalau belum terjadi gol saja.” Komentar itu didengar bagian umum, Tata.

Pelatih Jaya Hartono juga sempat terlihat emosi begitu wasit meniup peluit panjang tanda pertandingan berakhir. Ia bersama asistennya, Robby Darwis sempat menuju arah wasit. Namun, setelah Robby diamankan panitia, Jaya memberikan ucapan selamat kepada perangkat pertandingan.

Namun, Jaya juga memuji semangat yang diperlihatkan Eka Ramdani dkk. Menurut dia, pemain Persib sudah seperti gladiator bertarung dengan gigih. “Kalian telah membuat Persipura tidak bisa berbuat banyak mencetak gol. Ingat, ini bukan akhir dari segalanya. Semangat juang harus terus dikobarkan, tidak boleh down,” ujarnya kepada pemain.

Kekhawatiran Persib soal kinerja wasit, saat melawan Persipura sudah diduga sebelumnya. Jauh hari sebelum bertolak ke Papua, mereka sudah memprediksikan sulit untuk mencari kemenangan. Oleh karena itu, target yang diemban pun tidak muluk-muluk, cukup mencari hasil seri saat melawan Persipura dan Persiwa. Alasan tidak ada siaran langsung, membuat wasit dinilai lebih berani untuk mendukung tuan rumah. ***

Umuh Tak Gentar Dipanggil PSSI

JAYAPURA, TRIBUN-Wasit lagi-lagi dituding sebagai biang keladi kekalahan Persib. Menyusul kekalahan 0-1 Persib dari Persipura di Stadion Mandala Jayapura, Minggu (27/7), kubu Maung Bandung menilai wasit Jumadi Afendi berperan besar atas kekalahan Suwita Patha dkk.

Pelatih kepala Persib Jaya Hartono menyebutkan, kepemimpinan Jumadi hanya fair pada babak pertama. “Pada babak kedua, wasit banyak merugikan kita (Persib, Red),” ucap Jaya seperti disampaikan kepada Tribun.
Asisten Manajer Persib H Umuh Muhtar juga dengan tegas menilai wasit terlalu kentara berpihak kepada tim tuan rumah Persipura. Umuh dan juga Jaya mencontohkan, wasit tidak menghentikan pertandingan ketika Nyeck Nyobe dilanggar pemain Persipura.
“Akibat pertandingan dilanjutkan, sementara pemain kita memperhatikan Nyeck, pemain lawan bisa mencetak gol. Jadi bagaimana kita tidak menyalahkan wasit,” kata Umuh dan Jaya.
Umuh menyatakan dirinya tidak gentar dipanggil PSSI berkaitan komentarnya yang menyalahkan wasit. Umuh bahkan mengaku siap membeberkan apa yang terjadi di lapangan, termasuk kepemimpinan wasit, bila dirinya dipanggil PSSI.
“Tidak masalah saya dipanggil PSSI. Silakan. Justru ini kesempatan saya untuk membeberkan semuanya. Biar mata PSSI terbuka. Selama ini PSSI tidak mengetahui kinerja wasit di lapangan,” kata Umuh dia akhir pertandingan Peripura-Persib kemarin.
Ditambahkan Umuh, banyak wasit yang kualitasnya buruk dan tidak layak memimpin pertandingan Liga Super. Jumadi yang kemarin memimpin tarung Persipura-Persib, di mata Umuh, termasuk yang tidak layak bertugas di Liga Super.
“Kalau saya dipanggil PSSI karena komentar saya terhadap wasit, itu menjadi kesempatan bagi saya untuk memberikan pelajaran pada PSSI. Ini kesempatan ketika pihak lain tidak yang berani melakukannya,” tegas Umuh.
Umuh juga tidak gentar bila akibat sikap kritisnya kepada wasit dan PSSI, dirinya terdepak dari manajemen tim Persib. “Tidak masalah karena saya akan kembali jadi bobotoh. Sebagai bobotoh saya akan tetap maksimal mendukung Persib,” katanya.(gan/daf)

Pemain Persib Harus Punya Nyali

Warga Jabar di Jayapura Siap Beri Dukungan

JAYAPURA, (PR).-
Perlu “nyali berkelahi” untuk meredam permainan keras Persipura, sehingga Persib tidak akan mudah dikoyak-koyak lawannya. Jika sudah muncul sikap berani, pemain bisa tampil lebih percaya diri.

“Tidak perlu ada yang ditakuti. Mereka bermain keras atau kasar tujuannya membuat pemain Persib takut duluan. Sikap takut ini yang harus dihindari, karena kita yang akan dipermainkan mereka,” ujar Wakil Manajer Persib H. Umuh Muchtar kepada Wartawan Pikiran Rakyat Irfan Suryadireja dan Andri Gurnita di Hotel Tirta Mandala Jayapura, Papua, Jumat (25/7).

Umuh berharap, wasit yang akan ditugaskan nanti bisa menjunjung tinggi fair play sehingga pertandingan menjadi enak ditonton. Selain itu, kepemimpinan wasit yang tegas akan melindungi pemain Persib maupun Persipura dari tindakan permainan kasar.

“Menang, seri, atau kalah adalah hasil permainan. Akan tetapi, tetap harus dengan cara sportif. Kalau permainan berlangsung sportif, hasil apa pun akan kita terima,” ujarnya.

Melihat pengalaman dari kasus Hariono di Bandung, apalagi partai ini tidak disiarkan secara langsung, ofisial Persib berinisiatif merekam jalannya pertandingan. Hal itu akan menjadi bukti, seandainya terjadi permainan yang keluar dari prinsip-prinsip fair play.

Seperti diketahui, dua partai tandang terberat di LSI adalah bertanding di Jayapura dan Persiwa. Mereka terkenal dengan permainan keras sehingga sulit dikalahkan di kandang.

Umuh melihat, suasana di tubuh Persib sudah kondusif pascakekalahan dari Persija dan Hariono mendapat sanksi dari Komdis PSSI. Mereka sudah bisa melupakan kekalahan itu. Seusai latihan ringan di dekat hotel kemarin pagi, para pemain naik motor boat bersama pelatih Jaya Hartono di pantai, yang lokasinya bersebelahan dengan hotel. “Dalam kondisi kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh, pemain harus dibuat enjoy,” ujar Jaya.

Warga Jabar

Sedikitnya, 100 warga Jabar yang ada di Papua akan memberikan dukungan penuh saat Persib melawan Persipura di Stadion Mandala, Minggu (27/7). Ketua Paguyuban warga Jabar di Papua Nandi Suprihatna menengok Persib di hotel tempat menginap.

Ia bersama rekannya, Solehudin, diterima Umuh. Dalam pertemuan tersebut, Nandi mengatakan, warga Jabar baik pedagang atau yang bekerja di perusahaan akan datang ke stadion. “Kami ingin melihat langsung permainan Persib. Selama ini, seringnya melihat main di televisi,” ujarnya.

Menurut pria asal Garut itu, meski akan datang berkelompok, mereka tidak takut bergabung dengan suporter Persipura. Selama ini, kata dia, suporter Persipura sangat sportif dan tidak menggangu suporter lain. Bahkan, jika Persipura main jelek, bisa dilempari penontonnya, dan tim tamu yang didukung. “Mereka hanya mendukung tim yang main bagus,” ujarnya.

Hal serupa diutarakan Solehudin, yang sudah 17 tahun bisnis gorden di Jayapura. “Para pedagang dari Jabar sudah tidak sabar ingin melihat penampilan Persib. Terakhir Persib main di sini sekitar lima tahun lalu, pelatihnya Juan Paez,” ujarnya.***