BANDUNG, (PR).-
Rencana pengurus Persib untuk melelang pertandingan kandang Persib pada Liga Super Indonesia (LSI) 2008, mendapat perhatian besar. Saat ini, sudah ada beberapa pihak swasta yang menyerahkan proposal untuk ikut lelang.
Sayangnya, penawaran yang mereka ajukan masih di bawah standar yang pernah diutarakan Ketua Harian Persib H. Edi Siswadi, sebesar Rp 1,5 miliar. “Kami masih melakukan negosiasi nilai kontrak, yang pasti inginnya antara Rp 1 miliar sampai Rp 1,5 miliar,” kata Edi di Stadion Siliwangi, Bandung, Sabtu (24/5).
Namun, menurut Edi, saat ini sudah ada satu event organizer yang sudah melakukan pembicaraan. “Prosesnya baru mencapai 75 persen. Karena itu, belum bisa saya ungkapkan identitasnya,” tuturnya.
Salah satu poin terpenting dari lelang ini adalah Persib harus mendapatkan dana secara utuh dan waktu pembayarannya harus jelas. Segala risiko denda dari Komdis PSSI dan biaya penyelengaraan menjadi tanggung jawab penuh pemenang lelang.
Rencana melelang laga pertandingan Persib, dinilai sebagai terobosan baru. “Ini langkah positif. Sebab, ke depan, apalagi sudah memiliki stadion sendiri, pendapat dari tiket ini sudah menjadi salah satu sumber utama pendanaan klub,” ujar praktisi pemasaran, Hilman Purakusumah.
Ia mengatakan, dengan program ini, secara langsung sudah mulai mengikis kultur amatir yang selama ini melekat di Persib. Namun, dia mengingatkan pemenang lelang melalui proses tender ini, diberikan keleluasaan mengurus bisnis pertandingan. “Paling penting tidak boleh direcokin. Biarkan pemenang tender mengelola,” ujar Hilman.
Ia mengingatkan, kesepakatan antara Persib dan pemenang tender harus jelas. Jangan sampai nanti muncul keluhan, pemegang hak pertandingan mengalami kerugian sehingga meminta pengurangan nilai kontrak.
Berkaitan dengan bukaan awal nilai tawaran lelang, menurut Hilman, bergantung pada total pendapatan dari tiket pada kompetisi sebelumnya.
Misalnya, jika pada kompetisi sebelumnya mengalami defisit, berarti bisa memulai dari Rp 500 juta. Sebaliknya, jika biasanya setiap kompetisi bisa meraup keuntungan Rp 500 juta, bisa memulai dari Rp 750 juta atau lebih dari itu. (A-65/A-161/A-150)***